Property’s news by the EdGe

Kementerian Perumahan Rakyat menargetkan penyediaan rumah bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah tahun ini sebanyak 121.000 unit. Target itu menurun dibandingkan tahun 2012 sebanyak 133.000 unit, bahkan lebih rendah dibandingkan rencana pembangunan jangka menengah yang dicanangkan pemerintah sebanyak 350.000 unit.

Demikian dikemukakan Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz dalam paparan bertajuk ”Kinerja Kemenpera 2012 dan Rencana Kerja 2013”, di Jakarta, Jumat (4/1/2012) kemarin. Djan Faridz mengemukakan, target penyaluran rumah bersubsidi melalui fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) itu meliputi rumah tapak sebanyak 120.500 unit dan rumah susun sebanyak 500 unit. Alokasi FLPP ditargetkan sebesar Rp 6,958 triliun.

Target itu menurun dibandingkan tahun 2012 sebanyak 133.000 unit, bahkan lebih rendah dibandingkan rencana pembangunan jangka menengah yang dicanangkan pemerintah sebanyak 350.000 unit.

Ia mengakui, kebutuhan rumah rakyat masih sangat besar. Hingga 2010, kekurangan rumah rakyat sudah mencapai 13,6 juta unit dengan laju kekurangan rumah terus bertambah 800.000 unit per tahun. Meski demikian, keterbatasan alokasi anggaran perumahan menyebabkan kekurangan rumah masih sulit teratasi. Realisasi penyaluran rumah bersubsidi tahun 2012 masih sangat rendah.

Berdasarkan data Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Perumahan, total penyaluran rumah bersubsidi sebanyak 73.923 unit senilai Rp 3,03 triliun atau 55,58 persen dari target 133.000 unit. Kendala penyaluran FLPP, ujar Faridz, di antaranya ketidaksiapan sebagian bank menyalurkan kredit rumah bersubsidi.

FLPP bersumber dari dana pemerintah dan perbankan dengan komposisi pendanaan 70 persen:30 persen dengan suku bunga tetap 7,25 persen untuk jangka waktu (tenor) kredit 20 tahun. Ada enam bank umum dan 15 bank pembangunan daerah (BPD) yang telah berkomitmen menyalurkan FLPP. Namun, hanya lima BPD dari 15 BPD yang tercatat menyalurkan FLPP.

Selain itu, kemampuan pengembang yang belum merata untuk membangun rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan harga sesuai patokan pemerintah. Harga rumah sederhana tapak bersubsidi dipatok Rp 88 juta-Rp 145 juta per unit menurut zonasi dan rumah susun bersubsidi maksimum Rp 216 juta per unit.

Deputi Pembiayaan Kementerian Perumahan Rakyat Sri Hartoyo mengemukakan, rendahnya penyerapan rumah bersubsidi juga dipicu kesulitan masyarakat berpenghasilan rendah untuk membayar uang muka rumah. Ia mengimbau perbankan untuk menurunkan uang muka setidaknya menjadi 5 persen dengan jangka waktu kredit 20 tahun. (sumber:kompas)

Jika anda membutuhkan jasa the EdGe, silahkan hubungi :

  • HOTLINE

    Telp :
    +6231 – 6012 – 3188 ;
    +6231 – 8191 – 3900 ;

  • Pin BB : 30FBE15D

  • Email :

  • info@belisewarumah.com

 

 

umah investasi

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat terjadi kenaikan penjualan rumah selama triwulan III-2012. Berdasarkan survei BI, penjualan rumah naik 9,62% dibandingkan triwulan sebelumnya (qtoq).

“Peningkatan penjualan terutama terjadi pada rumah tipe kecil (di bawah tipe 36) sebesar 20,20% (qtoq),” jelas survei tersebut dikutip Minggu (18/11/2012)

Menurut BI berdasarkan lokasi, penjualan unit rumah kecil tertinggi berada di Jakarta. Peningkatan penjualan ini sejalan dengan peningkatan PDB sektor konstruksi yang mencapai 8% (qtoq).

BI juga mencatat seluruh tipe rumah mengalami kenaikan sebesar 1,04% (qtoq). Kenaikan harga tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil.

Kenaikan harga rumah triwulan III-2012 jika dibandingkan tahun sebelumnya (yoy) mengalami kenaikan 4,25%, sedangkan periode sama tahun sebelumnya hanya naik 3,68%. Kenaikan tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil hingga 4,91%.

Berdasarkan wilayah, kenaikan harga paling tinggi terjadi di Medan terutama pada tipe besar hingga mencapai 10,83%. Selain itu BI, memperkirakan terjadi tekanan harga jual rumah pada triwulan IV-2012 ini.

“Indeks harga properti diperkirakan mengalami kenaikan yang melambat sebesar 0,30% dengan kenaikan harga tertinggi diperkirakan terjadi pada rumah tipe kecil 0,43%,” jelas BI.

Survei harga properti residensial merupakan survei tiga bulanan yang dilaksanakan sejak triwulan I-1999 oleh BI. Dilakukan terhadap sampel kalangan pengembang properti di 12 kota yaitu Medan, Palembang, Bandar Lampung, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Banjarmasin, Manado, dan Makassar.

Wilayah Jabodetabek mulai disurvei pada triwulan I-2002, dan pada triwulan I-2004 ditambah kota Pontianak sehingga menjadi 14 kota. Total responden yang disurvei mencakup 45 pengembang utama di Jabodetabek dan Banten dan sekitar 215 pengembang di 13 kantor Bank Indonesia.

Istilah rumah kecil dalam survei ini merujuk pada rumah dengan tipe di bawah 36 m2, sedangkan rumah tipe menengah dalam rentang 36-70 m2 dan rumah tipe besar , dengan ukuran di atas 70 m2.

Sumber : detik.com

Jika anda membutuhkan jasa the EdGe, silahkan hubungi :

  • HOTLINE

    Telp :
    +6231 – 6012 – 3188 ;
    +6231 – 8191 – 3900

    Email :
    info@belisewarumah.com